{"id":9612,"date":"2021-11-18T00:51:46","date_gmt":"2021-11-18T00:51:46","guid":{"rendered":"https:\/\/komunikasi.fisip.undip.ac.id\/v1\/?p=9612"},"modified":"2021-11-18T00:51:46","modified_gmt":"2021-11-18T00:51:46","slug":"creative-idea-fest-2021-gali-potensi-guna-menjadi-penulis-konten-berkualitas","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/komunikasi.fisip.undip.ac.id\/v1\/id\/2021\/11\/18\/creative-idea-fest-2021-gali-potensi-guna-menjadi-penulis-konten-berkualitas\/","title":{"rendered":"Creative Idea Fest 2021: Gali Potensi Guna Menjadi Penulis Konten Berkualitas"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: center;\">Poster Digital <em>Exclusive Content Writing Workshop<\/em> oleh Creative Idea Fest 2021 (30\/10\/2021).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Semarang\u2014Creative Idea Fest (CIF) merupakan salah satu rangkaian acara dalam Commweek 2021 yang terdiri atas tiga mata lomba di bidang kreatif, yaitu <em>marketing communication, advertising video production, <\/em>dan<em> broadcasting<\/em>. Puncak acara CIF kali ini berupa webinar dan <em>workshop<\/em> kepenulisan konten bertajuk <em>Exclusive Content Writing Workshop<\/em> dengan tema\u00a0 \u201c<em>Build Qualities to Maximizing Opportunities<\/em>\u201d yang diselenggarakan pada 30 Oktober 2021 melalui Zoom Meeting.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Acara ini dibuka oleh Fauzan Surya dan Untsa Yustia selaku pewara, dilanjutkan dengan sambutan dari Arrawinda sebagai penanggung jawab CIF 2021 dan Kaprodi <strong>S-1 Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro<\/strong>, S. Rouli Manalu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Menciptakan Konten yang Memberikan Dampak Positif<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sesi satu dari acara ini menghadirkan <em>co-founder<\/em> @menjadimanusiaid yakni Rhaka Ghanisatria sebagai pembicara webinar. Sebagai gambaran umum, Menjadi Manusia merupakan\u00a0sebuah alternatif media dan <em>social-platform<\/em> untuk berbagi serta mendengar cerita-cerita tentang kehidupan dari berbagai sudut pandang dengan harapan mampu menjadi sebuah tangga untuk mendapatkan setitik harapan bagi siapa pun yang sedang menghadapi persoalan hidup.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Untuk memulai sesinya, ia menceritakan awal mula lahirnya Menjadi Manusia yang terinspirasi dari pengalaman pribadinya sebagai penderita gangguan kesehatan mental dan ketertarikannya dengan bidang <em>social enterprise<\/em>, yaitu wirausaha yang bertujuan untuk membantu masyarakat. Menjadi Manusia pun ia kembangkan dengan fokus membuat konten-konten terkait kesehatan mental dan \u2018menjadi manusia\u2019, baik berupa video yang dipublikasikan di YouTube, maupun tulisan untuk <em>website<\/em> dan Instagram.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cUntuk saat ini, konten digital memiliki kekuatan yang sangat besar hingga seakan mampu melakukan <em>brainwashing<\/em> dan berdampak bagi masyarakat,\u201d ujar Rhaka.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Setelah rutin membuat konten, Rhaka menyadari bahwa sebuah konten bisa menyelamatkan nyawa. Hal ini ia simpulkan karena banyak penikmat konten Menjadi Manusia yang berterima kasih karena dengan adanya konten-konten tersebut banyak yang mengurungkan niat untuk bunuh diri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bagi Rhaka, kunci utama membuat konten yang bermanfaat adalah dengan mengetahui alasan mengapa kita membuatnya. Pun alasan Rhaka menciptakan Menjadi Manusia berangkat dari keresahannya karena masyarakat Indonesia\u00a0masih sering menghakimi pengidap gangguan kesehatan mental. Kendati demikian, niat yang baik itu tentu tidak langsung sukses terlaksana, Rhaka dan tim perlu terus belajar dan mengembangkan ide.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cTidak ada karya pertama yang langsung bagus sehingga penting untuk melakukan inovasi dan evaluasi sambil tetap memperhatikan kebutuhan pasar. Tidak apa-apa untuk membuat kesalahan, tetapi jangan diulangi sehingga inovasi dan evaluasi sangat penting untuk dilakukan agar konten yang dibuat semakin bagus,\u201d tambah Rhaka.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong><em>Workshop<\/em><\/strong><strong> Kepenulisan bersama Penulis Novel <em>Best Seller<\/em><\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sesi kedua yang diagendakan untuk penyelenggaraan <em>workshop<\/em> menghadirkan Leila S. Chudori, penulis novel <em>best seller<\/em> Laut Bercerita dan juga seorang jurnalis sebagai pembicara sekaligus evaluator. <em>Workshop<\/em> ini diawali dengan <em>sharing session<\/em> dari Leila dengan para peserta. Ia mengatakan bahwa bakat memang merupakan faktor pertama yang sangat menentukan kemampuan penulis, tetapi bukan berarti orang yang tidak berbakat tidak dapat berkembang. Menurutnya, dibutuhkan kerja keras dalam mengasah kemampuan menulis dan penulis yang baik tidak pernah berhenti belajar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cMembaca dan menulis adalah satu paket. Jika ingin mampu menulis, haruslah rajin membaca. Begitu pun jika orang senang membaca, dengan sendirinya tubuh merekam bagaimana tatanan tulisan dalam bacaan tersebut sehingga di kemudian hari kita dapat menulis,\u201d ujar Leila.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Untuk meningkatkan kemampuan menulis para peserta, Leila merekomendasikan beberapa penulis yang karyanya wajib dibaca untuk meningkatkan kemampuan menulis, yakni karya-karya klasik Pramoedya Ananta Toer, Umar Kayam, Ahmad Tohari, N. H. Dini, Mark Twain, Ernest Hemingway, Scott F. Fitzgerald, J. D. Salinger hingga penulis kontemporer seperti Julian Barnes, Zadie Smith, dan Alice Sebold.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selain bakat dan kerja keras, Leila menganggap bahwa sikap rendah hati juga sangat memengaruhi kemampuan menulis. Leila mengingatkan peserta untuk jangan sombong dan merasa sudah sangat pandai menulis. Ia berpesan agar semua peserta yang hadir tetap rendah hati.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cTanpa kerendahan hati, tulisan kita akan hanya penuh dengan sebuah tulisan yang <em>self-\u0131ndulgent, <\/em>sibuk dengan diri sendiri,\u201d tutur Leila.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Leila mengakhiri sesi dengan menyampaikan materi terkait perencanaan menulis konten. Ia juga memaparkan penugasan, yakni para peserta diharuskan membuat tulisan berupa <em>feature <\/em>atau opini yang kemudian dievaluasi pada hari kedua <em>workshop<\/em>, 31 Oktober 2021 yang memang dikhususkan untuk penilaian tugas peserta.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n<p style=\"text-align: justify;\">Reporter: Salsabila Febryanti<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Penulis : Dinda Khansa Berlian<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Editor: Annisa Qonita Andini<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Poster Digital Exclusive Content Writing Workshop oleh Creative Idea Fest 2021 (30\/10\/2021). Semarang\u2014Creative Idea Fest (CIF) merupakan salah satu rangkaian acara dalam Commweek 2021 yang terdiri atas tiga mata lomba di bidang kreatif, yaitu marketing communication, advertising video production, dan broadcasting. Puncak acara CIF kali ini berupa webinar dan workshop kepenulisan konten bertajuk Exclusive Content [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":9613,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_et_pb_use_builder":"","_et_pb_old_content":"","_et_gb_content_width":"","footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-9612","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-id"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/komunikasi.fisip.undip.ac.id\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9612","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/komunikasi.fisip.undip.ac.id\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/komunikasi.fisip.undip.ac.id\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/komunikasi.fisip.undip.ac.id\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/komunikasi.fisip.undip.ac.id\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=9612"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/komunikasi.fisip.undip.ac.id\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9612\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":9614,"href":"https:\/\/komunikasi.fisip.undip.ac.id\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9612\/revisions\/9614"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/komunikasi.fisip.undip.ac.id\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/media\/9613"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/komunikasi.fisip.undip.ac.id\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=9612"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/komunikasi.fisip.undip.ac.id\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=9612"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/komunikasi.fisip.undip.ac.id\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=9612"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}