Diskusi Jurnalistik dan Peluncuran Hasil Riset: Mengapa Ada Banyak Mahasiswi Jurnalistik, tetapi Hanya Sedikit Jurnalis Perempuan?

Posted by Nur Inayah

July 21, 2021

 

Banner acara diskusi dan peluncuran hasil riset “Mengapa Ada Banyak Mahasiswi Jurnalistik tetapi Hanya Sedikit Jurnalis Perempuan?” (Gambar: Instagram Remotivi)

Semarang — Tim Peneliti Undip, UGM, Unpad dan Remotivi menyelenggarakan Diskusi dan Peluncuran Hasil Riset dengan tajuk “Mengapa Ada Banyak Mahasiswa Jurnalistik tetapi Hanya Sedikit Jurnalis Perempuan?” melalui platform Zoom Meeting dan dihadiri ± 400 partisipan pada Sabtu (10/7/2021) lalu. Penelitian yang diselenggarakan ini bertujuan untuk memicu perubahan positif pada ekosistem jurnalistik yang ramah bagi perempuan. Acara dibuka oleh Dr. Lintang Ratri sebagai moderator dengan mengumumkan pembicara yang akan memaparkan hasil riset. 

Dalam sesi pertama diisi oleh tiga pembicara utama, antara lain M. Heychael, M.Si (Peneliti Remotivi), Dr. Nurul Hasfi (Peneliti dan Pengajar Jurnalistik Undip), serta Dr. Eriyanto (Peneliti dan Pengajar Ilmu Komunikasi UI). Ketiganya diberi kesempatan untuk memaparkan hasil riset selama 15 menit. Sesi kedua dilanjutkan dengan pemberian tanggapan terkait hasil riset yang telah dipaparkan oleh Evi Mariani, MSc (Pemimpin Redaksi Project Multatuli, Anggota AJI Bidang Gender, Anak, dan Marjinal) dan Dr. Irwa R. Zarkasi (Dekan FISIP UAI/ASPIKOM)

Latar Belakang dan Metode Pelaksanaan Riset 

Sesi pemaparan hasil riset dibuka oleh M. Heychael, M.Si., selaku Peneliti Remotivi. Beliau mengatakan bahwa riset ini dilatarbelakangi karena representasi perempuan di media bermasalah, salah satu di antaranya yakni hanya ada 10% jurnalis perempuan dari total seluruh jurnalis di Indonesia. Hasil ini diperoleh melalui metode penelitian dengan melakukan survei pada mahasiswa peminatan jurnalistik yang menduduki semester akhir di Universitas Diponegoro, Universitas Indonesia, Universitas Padjadjaran, dan Universitas Gadjah Mada. Melalui survei tersebut, ditemukan ketertarikan mahasiswi maupun mahasiswa sebagai jurnalis relatif rendah. 

Mengapa Mahasiswi Kurang Tertarik dengan Jurnalistik

Pembicara kedua membawa topik “Mengapa Mahasiswa Kurang Tertarik dengan Jurnalistik” yaitu Dr. Nurul Hasfi, selaku Peneliti dan Pengajar Jurnalistik Undip. Didasarkan pada Social Cognitive Career Theory (SCCT), keputusan karier mahasiswi dalam memilih jurnalis sebagai profesi akhir dipengaruhi oleh faktor efikasi diri dan ekspektasi hasil. Ekspektasi pandangan positif, seorang jurnalis dapat memiliki privilese dan jaringan. Akan tetapi, terdapat pandangan negatif dalam konteks jenjang karier yang tidak pasti dan gaji yang tidak terlalu besar. 

“Pada faktor efikasi diri, mahasiswi percaya dapat menjadi jurnalis, tetapi kurang percaya diri dapat menduduki puncak karier karena adanya stereotip kultural budaya patriarki, di mana perempuan cenderung berkarier dalam pekerjaan domestik dan stereotip perempuan yang mengedepankan perasaan. Makanya banyak mahasiswi yang kurang tertarik dengan jurnalistik,” ujar Nurul.

Bagaimana Pola Keputusan Karier Mahasiswi?

Peneliti dan Pengajar Ilmu Komunikasi UI, Dr. Eriyanto. Memaparkan bahwa efikasi diri mahasiswi yang yakin dirinya dapat berhasil jika menjadi jurnalis setelah lulus kuliah, akan menentukan ekspektasi hasil. Efikasi diri yang terbentuk dalam mahasiswi dipengaruhi oleh kompetensi dan pengalaman belajar mereka selama kuliah. Dalam pengalaman magang, beberapa mahasiswi menyampaikan bahwa perlakuan kepada perempuan dan laki-laki berbeda dalam peliputan, di mana perempuan cenderung ditugaskan untuk meliput berita yang soft, seperti hiburan. Selain itu, adanya beberapa mahasiswi magang yang mengalami pelecehan secara seksual ketika meliput isu-isu politik. 

Tanggapan Mengenai Hasil Riset yang Telah Dipaparkan

Evi Mariani, M.Sc., selaku Pemimpin Redaksi Project Multatuli, Anggota AJI Bidang Gender, Anak, dan Marjinal, menyampaikan bahwa efikasi diri yang menganggap profesi jurnalis sebagai property masculine, membuat perempuan kurang percaya diri untuk terjun di bidang profesi yang dianggap maskulin. Ketika ingin mempromosikan seorang jurnalis perempuan, pimpinan diharapkan melakukan affirmation action, yaitu akan memilih berdasarkan kemampuan dan kemauan, tanpa melihat gender. Dengan demikian, dibutuhkan sebuah support system dari pihak perempuan dan yang lainnya agar jurnalis perempuan dapat bertahan di dunia industri media. Survei yang dilakukan mengenai minat mahasiswa, baik perempuan dan laki-laki memang menurun dalam memilih profesi jurnalis sebagai jenjang karier mereka. 

Tanggapan kedua datang dari Dekan FISIP UAI/ASPIKOM, Dr. Irwa R. Zarkasi. “Sudahkah kurikulum dan dosen-dosen yang mengajar jurnalistik maupun mata kuliah terkait sudah mengajarkan mengenai jurnalistik gender?” tanya Irwa. 

Ia menyampaikan hal tersebut agar mahasiswa dipersiapkan untuk memiliki perspektif mengenai jurnalistik gender, baik dari pihak lembaga jurnalistik, asosiasi, perguruan tinggi, maupun industri dapat bekerja sama dalam memperbaiki wawasan perkembangan jurnalistik agar bisa diajarkan di dalam kurikulum perkuliahan.

Kesimpulan Hasil Diskusi dan Peluncuran Hasil Riset

Ekspektasi dari mahasiswa dan mahasiswi banyak dipengaruhi oleh pengalaman magang yang dilaksanakan. Perlakuan dan semua pembelajaran yang didapatkan pada saat magang akan menentukan keputusan akhir mahasiswi dalam memilih. 

Selain penentuan secara personal, kampus juga dapat memberikan dukungan kepada mahasiswi dengan cara memperkuat efikasi diri perempuan dan upaya penghapusan kekerasan pada jurnalistik wanita. Pun industri media dapat membenahi lingkungan kerja dengan menciptakan budaya kerja dan ruang yang sensitif gender. Ini bertujuan agar jurnalis perempuan tetap dapat bertahan di dunia industri media. 

Penulis: Sanita Sitinjak

Reporter: Dinda Khansa Berlian /Salsabila Febryanti

Editor: Annisa Qonita Andini

More from Ilmu Komunikasi

0 Komentar

You cannot copy content of this page