Semarang – Pekan Komunikasi (Pekom) merupakan salah satu ajang kompetisi antar mahasiswa Komunikasi se-Indonesia yang diselenggarakan oleh jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia (UI). Salah satu mata acaranya adalah Media Matters yang terdiri dari lomba, seminar, workshop, dan company visit. Tahun ini, Media Matters mengangkat tema “Enlarging Perspective Towards Partial Information in Uncertainty Era”. Acara ini diselenggarakan pada 12 Februari hingga 9 April 2021.

Pengumuman pemenang lomba Media Matters disiarkan langsung melalui kanal Youtube Pekom UI pada 9 April 2021. Juara pertama diraih oleh tim Timang-Timang asal Universitas Diponegoro, yaitu Arlina Satiti Mugi Laras dan Tjen, Maurilia Zerlina, dua mahasiswi berprestasi prodi Ilkom Undip, dengan program kampanye mereka yaitu KaLiTuJu.

Bagaimana Awal Mula Terbentuknya Timang-Timang?

Ketertarikan di bidang yang berbeda menjadi salah satu alasan terbentuknya tim ini. Laras sendiri memiliki ketertarikan di bidang jurnalistik, sedangkan Tjen di bidang strategis. Perbedaan tersebut membuat mereka saling melengkapi, hingga terciptalah Timang-Timang dengan inovasinya, KaLiTuJu  (Kaji Lihat – Tulis Jujur).

“Karena aku melihat potensi dari Laras, ya. Menurutku Laras itu adalah orang yang aktif di bidang jurnalistik sedangkan aku di bidang strategis. Jadi cocok dan bisa saling melengkapi gitu. Ada ilmu editing-nya dan pemilihan datanya dari Laras, sedangkan aku lebih ke strategis, inovasi dan sebagainya,” ujar Tjen.

Latar Belakang Terbentuknya KaLiTuJu

Berangkat dari masalah banyaknya misinformasi dan disinformasi, KaLiTuJu hadir sebagai sebuah strategi kampanye literatur digital untuk melawan penyebaran misinformasi dan disinformasi. Penyajian info dilakukan melalui konten audiovisual agar dapat menarik minat anak muda.

“Tim timang-timang mencoba untuk menyajikan info lewat akun KaLiTuJu sebagai ruang yang inklusif kontennya berupa audiovisual dengan pemilihan kata yang fun agar dekat dengan anak muda. Hasil dari penentuan konten itu didapatkan dari indepth interview responden berusia 17-25 karena mereka adalah usia aktif bermedsos (dilihat dari APJII),” jelas Laras.

Selain itu, permasalahan hoaks juga menjadi latar belakang dari inovasi mereka. Salah satunya berbagai kabar hoaks mengenai Covid-19 yang kebanyakan tersebar melalui WhatsApp. Terutama berasal dari orang-orang tua yang lebih susah untuk mengklarifikasi kebenaran berita. Sedangkan, jika dibandingkan dengan orang tua, anak muda tidak mudah termakan hoaks. Sehingga lewat KaLiTuJu mereka berinisiatif untuk mengajak anak muda untuk turut andil dalam memberantas hoaks.

“Peran pemuda itu penting banget untuk memberantas hoaks itu. Jadi, kenapa nggak kita pakai peran pemuda ini untuk memberantas hoaks. Kalau kita lihat, mereka (pemuda) tahu kalau mereka aware terhadap hoaks. Tetapi, untuk mengingatkan orang tua mereka atau memberi insight tentang hoaks, itu masih sedikit. Nah berangkat dari masalah itu, kita membuat sebuah kegiatan kampanye yang lebih menyasar ke anak-anak muda,” jelas Tjen.

Tips Memenangkan Lomba

Sebagai mahasiswi yang kerap kali memenangkan lomba, Tjen dan Laras mengatakan bahwa kunci penting dalam mengikuti lomba adalah sesuai dengan minat dan bidang yang dikuasai. Laras juga menambahkan bahwa kita harus mempertimbangkan rekan yang akan diajak berkompetisi.

“Aku selalu mempertimbangkan masalah siapa yang akan diajak. Apakah sevisi semisi atau nggak dan dia orangnya bisa kena pressure apa nggak. Soalnya, ini bisa berdampak sama proyek yang dijalani,” ujar Laras.

Tjen juga mengatakan bahwa keberanian adalah sifat yang harus ada ketika akan terjun ke sebuah kompetisi. Rasa takut dan malu untuk kalah hanya akan membuat kita kehilangan kesempatan.

“Selama itu jadi sesuatu yang kamu inginkan, kamu mau cari pengalaman di situ, kamu merasa kamu punya ketertarikan di situ, ya ikut aja. Kenapa nggak? Lomba kan memang ada menang dan kalah. Jangan takut, jangan gengsi, dan jangan malu. Terkadang orang punya potensi, tapi malu kalau kalah. Kalau ada kesempatan, ambil. Karena benar adanya kalau kesempatan nggak akan datang dua kali,” tutup Tjen.

Penulis: I Gusti Ayu Nyoman Septiari

Reporter: Amelia Nuraini Purnomo

Editor : Dian Rahma Fika Alnina